selasar gagasan

selasar adalah serambi atau beranda, bagian balai yang terendah tempat rakyat. selasar gagasan menjadi tempat untuk mendedah dan mempertukarkan gagasan tanpa rasa berkelebihan atau berkekurangan.

Wednesday, October 19, 2005

akar radikalisme

Apakah yang mendorong seseorang untuk menjadi radikal? Pertanyaan singkat dan sederhana ini sesungguhnya membutuhkan jawaban yang amat kompleks. Tidak mudah untuk memberikan satu jawaban singkat yang bisa melingkupi keseluruhan aspek yang antara lain mencakup latar belakang, motif, tujuan, dan strategi (jika memang tindakan itu bukan sesuatu yang sporadis). Namun demikian, kajian sederhana ini mencoba untuk melakukan amatan singkat tentang dorongan untuk menjadi radikal.

Dalam banyak kasus, agama dianggap sebagai salah satu pemicu radikalisme. Salah satu sifat dasar agama adalah dogmatis; dengan begitu kebenaran agama ditempatkan sebagai ‘sesuatu yang telah terberi’, ada dengan sendirinya dan tidak sepatutnya dikritisi atau digugat. Jadi, kebenaran adalah kebenaran, tiada penyangkalan yang dapat dilakukan atasnya. Pemahaman semacam ini mendorong seseorang untuk tidak kritis terhadap keadaan, tidak mampu melakukan kontekstualisasi agama dengan realitas. Agama menjadi kehilangan pijakan rasional ketika teks-teks kitab suci dimaknai secara sempit berdasarkan skrip apa adanya. Pemahaman semacam ini menempatkan agama sebagai sesuatu yang statis, final, tak berubah. Sementara, kenyataan sosial bergerak dengan kecepatan yang semakin tinggi, dinamis, bahkan mungkin membuat kita tunggang langgang. Keberjarakan antara kenyataan dan pemaknaan terhadap ajaran inilah yang membuat seseorang merasa bahwa kenyataan kini telah jauh menyimpang dari ajaran. Dan sebagai manusia, yang merupakan pemimpin yang diutus oleh Tuhan di atas bumi, tentu saja pemeluk agama memiliki obligasi dengan landasan transenden untuk menegakkan aturan dan kerajaan Tuhan. Mereka menjadi ‘pembela Tuhan’ dengan menjadi ‘musuh’ bagi sesamanya.

Selanjutnya, penetrasi modernitas dan pusaran kapital dalam ekonomi global telah membuat kalangan marjinal secara sosio-politik dan sosio-ekonomi menjadi semakin tercerabut dan terpinggirkan. Konglomerasi lokal, perusahaan multi-nasional, lembaga ekonomi internasional, kepentingan negara-negara besar adalah kekuatan-kekuatan gigantik yang mencengkeram dan sulit untuk dilawan. Lemahnya daya mereka berhadapan dengan kekuatan-kekuatan di luar dirinya yang bersifat menindas itu membuat ideologi radikal semakin memiliki daya tarik bagi mereka. Semangat perlawanan dan rasa frustrasi yang menghinggapi benak kelompok pinggirian inilah yang mengarahkan mereka pada satu langkah ekstrem: perlawanan hingga titik darah penghabisan.

Di sisi lain pelemahan relatif negara juga dapat menjadi pemicu yang masuk akal. Dalam banyak kasus, radikalisme muncul akibat penindasan atau berjaraknya harapan dan kenyataan. Otoritarianisme negara menjadi pendorong yang mujarab bagi resistensi yang menghalalkan kekerasan. Rusia, Indonesia, Filipina adalah contoh bagaimana ketika kekuatan negara mengalami pelemahan relatif, kekuatan radikal justru menemukan tanah persemaian. Di negara-negara ini pada masa-masa sebelumnya negara menjadi kekuatan demonik yang mencengkeram hampir seluruh sendi kehidupan. Negara mengontrol rakyat, memastikan apa yang baik dan apa yang buruk bagi rakyat, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh rakyat. Boleh dikata satu-satunya aktor yang menggerakkan aktivitas adalah negara. Ketertindasan semacam ini membuat rakyat hampir tidak memiliki daya untuk berontak. Akibatnya rasa frustrasi menyelimuti pikiran mereka. Saat negara mengalami pelemahan relatif, maka keadaan pun berubah. Pelemahan relatif kekuasaan dalam negara pascaotoriter biasanya diakibatkan oleh kemunculan gelombang demokratisasi. Ketika sumber daya kekuasaan tidak lagi dimonopoli oleh negara, rakyat memiliki kebebasan untuk berpartisipasi. Tetapi, uniknya negara sendiri mengalami kegagalan untuk mengorganisasi administrasi negara sehingga mengarah kepada kebangkrutan kekuasaan. Maka, kelompok-kelompok yang awalnya ditindas kini berbalik menekan negara untuk memperjuangkan kepentingannya. Pertarungan atau ketegangan semacam ini tidak hanya muncul dalam diskusi-diskusi politik dan debat trebuka di parlemen, melainkan pula hadir dalam bentuk pendayagunaan sumber daya kekerasan. Kelompok-kelompok yang merasa bahwa saluran resmi tidak akan mampu mengakomodasi kepentingan mereka berubah menjadi kelomok radikal. Mereka akan memanfaatkan apa saja untuk mengekspresikan rasa frustrasi mereka. Akibatnya, di beberapa negara demokratisasi melahirkan ‘anak haram’ berupa gerakan radikal.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home