selasar gagasan

selasar adalah serambi atau beranda, bagian balai yang terendah tempat rakyat. selasar gagasan menjadi tempat untuk mendedah dan mempertukarkan gagasan tanpa rasa berkelebihan atau berkekurangan.

Wednesday, November 09, 2005

Catatan Tahunan

2003

Kegembiraan akhirnya mampir juga menyinggahiku. Setelah hampir satu tahun tanpa pekerjaan tetap, perusahaan tekstil itu mempekerjakan aku. Bagaimana pun ini suatu perubahan yang menggembirakan, meski jika dibandingkan cita-cita yang pernah mengendap lama dalam lubuk pikiranku jelas ini bukan apa-apa. Tiga belas tahun yang lampau, saat hari pertama masuk sekolah dasar, guru menanyakan nama sekaligus kegemaran dan cita-citaku. Tentu saja dengan lantang kusebut namaku Laksa, kegemaranku bermain sepak bola, dan cita-citaku tidak lain adalah mengabdi kepada negara menjadi pegawai negeri. Aku ingat hampir setiap tahun, pada hari pertama usai libur kenaikan kelas, guru menanyakan harapan masa datang kepada murid-muridnya. Sementara sebagian besar siswa menguar-uarkan harapan yang berbeda setiap tahunnya, aku tidak.

Hingga menjelang lulus SMA tahun lalu aku masih kukuh dan yakin dengan impianku untuk menjadi pegawai negeri. Namun, kukira impian itu kandas, bahkan mungkin karam. Bapak dan Emakku bilang bahwa mereka tidak seperti orang tua Teja yang memiliki berhektar sawah sehingga beberapa bagian dari sawah itu dapat mereka jual untuk mengirim Teja bekerja di Kantor Bupati. Seseorang di Kantor itu telah menunggu ribuan pelamar yang datang dengan bertumpuk harapan dan bergepok sogokan. Hingga kini aku belum kunjung bisa memahami bahwa agar bisa mengabdi kepada negara ternyata begitu banyak yang mesti dikorbankan. Mungkin itu sifat dasar pengabdian, yang selalu menuntut pengorbanan. Memberi tanpa harapan untuk diberi. Ah, entahlah.

Aku sendiri sudah enggan memikirkan hal itu. Kini aku adalah karyawan kontrak dengan seragam biru muda yang mesti menyibukkan diri dengan banyak hal di bagian pengepakan. Segalanya terasa begitu menyenangkan bagiku. Dengan memanfaatkan setiap kesempatan untuk lembur, rasanya penghasilanku lebih dari cukup. Dulu aku cuma bisa menelan ludah setiap kali melewati Restoran Padang saat pulang kerja menuju rumah kontrakan. Tetapi, bulan lalu aku bisa mengajak Bapak dan Emak menikmati gurihnya rendang di restoran itu ketika mereka datang ke sini.

Lebih dari sekadar lezatnya makan di restoran, kukira Bapak dan Emak pun sudah bisa mulai mencicil impian untuk punya cucu yang ganteng atau cantik. Mungkin kau akan mencibir, dan kau punya hak untuk itu. Sebab, bukan cuma kau yang iri melihat aku bergandeng tangan dengan Murni, karyawati tercantik di bagian pengepakan. Aku menganggap ini suatu keistimewaan. Waktu sekolah aku pernah dua kali pacaran, itu pun hanya dengan anak gadis tetangga yang tidak seberapa cantik. Dibandingkan Murni, hmm... aku tak perlu berpikir dua kali untuk menyebut bahwa di desaku tidak ada gadis yang lebih cantik daridapa dia.

Agaknya, ini mukjizat yang diturunkan oleh dunia industri. Bekerja di pabrik ini membuat kantungku tampak jauh lebih gembul. Dulu, saat masih sekolah kantungku hanya dipenuhi recehan yang diberikan Emak. Sekantung uang receh dan segerobak nasihat, itu yang selalu diberikan oleh Emak kala aku pamit hendak berangkat ke sekolah. Kini, aku bisa memanjakan kekasihku. Bukan dengan uang recehan, tetapi dengan lembaran-lembaran yang mengepulkan ceria. Kukira keceriaan Murni terbangun dari situ, bukan karena wajah ganteng, otak encer, atau karisma dan kesopanan yang memang tidak kupunya. Setiap akhir pekan kami menempuh lima belas kilometer untuk jalan-jalan di mal, sekadar makan di pusat jajanan atau menikmati harumnya parfum yang kubeli untuk Murni dari toko “Semerbak” di pojok dekat bioskop.

Hari-hari berikutnya barangkali dapat kusebut sebagai perjuangan panjang nan melelahkan untuk mempertahankan cinta yang kusangka agung. Supervisor bagian pengepakan, yang selalu memuji kecantikan Murni di hadapan para karyawan, mengendus hubungan kami. Dia mengingatkan aturan perusahaan yang melarang karyawan di divisi yang sama untuk menikah. Kami belum menikah, kami baru pacaran. Tetapi, pacaran adalah tahap awal menuju pernikahan, jadi tetap saja itu juga terlarang. Begitu dia murka di hadapanku suatu hari. Sejak peristiwa itu kesempatan kerja lembur untukku jadi menyusut. Supervisor beralasan bahwa market demand menurun, supply tenaga kerja bertambah, sementara cash flow perusahaan mesti dijaga agar tetap sehat, karena itu pembagian jam lembur juga mesti diatur ulang. Aku memang tidak mengerti istilah-istilah asing yang digunakannya. Tetapi, aku tahu bahwa karyawan lain memperoleh kesempatan lembur seperti biasa, sementara aku tidak demikian. Penghasilanku jadi berkurang ketimbang biasanya.

Murni mulai merajuk ketika malam Minggu kemarin aku tidak membawakannya apel atau bunga serupa kencan-kencan kami sebelumnya. Berselang dua bulan kemudian aku mendapatinya mengudarkan tawa berdua dengan sang supervisor. Mereka baru saja keluar dari restoran seafood di seberang mal yang sering diangankan oleh para karyawan sebagai tempat makan mewah.

2004

Di tengah menurunnya penghasilan, aku ingat apa yang diujarkan supervisor sialan itu tentang menjaga cashflow agar tetap sehat. Maka kini aku lebih ketat mengatur segala pengeluaranku. Aku akhirnya paham arti istilah cashflow itu dari Roki, dia juga karyawan bagian pengepakan. Roki bekerja untuk mengongkosi kuliahnya yang katanya sebentar lagi akan selesai. Dia juga bilang bahwa dia bekerja sekaligus meneliti kehidupan para buruh industri untuk tugas akhirnya di Fakultas Ekonomi.

Aku ingat aku sempat bersitegang dengan dia sewaktu kami berselisih paham tentang sebutan karyawan dan buruh. Selama ini setiap orang di perusahaan ini menyebut kami sebagai karyawan, lalu tiba-tiba seorang Roki menjuluki kami sebagai buruh. Aku menolaknya. Tetapi, Roki berkeras dan menyodorkan alasan-alasan yang meyakinkan. Itu namanya argumentatif, begitu Roki membuatnya jelas bagiku. Dengan kekuatan argumentasi, kita dapat memengaruhi buruh-buruh yang lain untuk bersatu. Bayangkanlah jika buruh-buruh sedunia bersatu. Akan terbentuk suatu diktator proletariat yang berpihak kepada kepentingan kelompok yang berada pada posisi marjinal di bawah rezim kapitalistik. Aku tak paham betul apa maksud Roki. Namun, aku paham dan menganggukkan persetujuan bahwa kami –para buruh– memang mesti bersatu untuk menaikkan posisi tawar di perusahaan tempat kami bekerja.

Roki adalah suluh yang sedikit demi sedikit memberi terang kepadaku tentang kenyataan. Terang bahwa terdapat ketidakadilan dalam hubungan industrial di perusahaan tekstil tempat aku bekerja. Aku pun mulai paham bahwa aku ini adalah buruh. Buruh lebih mencerminkan keberadaan kelas dan memiliki nuansa perjuangan yang lebih kental ketimbang karyawan. Dari buku-buku yang dibawa Roki aku pun mengerti bahwa tekanan untuk meredam gerakan buruh yang terorganisasi di negeri ini merupakan buah persekongkolan penguasa dan pengusaha demi mendapatkan tenaga kerja murah.

Segera saja aku semakin terlibat dalam gagasan-gagasan Roki. Dia mengajakku untuk mengikuti pertemuan-pertemuan bersama antara mahasiswa dan buruh. Mereka memberi dorongan sekaligus menunjukkan kepada kami bagaimana mengorganisasikan buruh demi memperjuangkan kepentingan bersama. Kepalaku semakin pening ketika mereka semakin sering menyebut tentang diktator proletariat, borjuasi, kapitalisme, neoliberalisme, atau anti-globalisasi. Aku tak paham konsep-konsep itu, tetapi sekali lagi aku bersepakat dengan mereka semua tentang pentingnya memperjuangkan hak-hak buruh.

Aktivitasku bersama Roki di organisasi buruh sedikitnya membawa pemahaman yang lebih baru dan lebih menyeluruh tentang hubungan industrial yang jomplang tak seimbang. Dari aktivitas ini pula aku kenal Wati, buruh pabrik sepatu yang lokasinya berada di satu kompleks industri dengan pabrik tekstil tempat aku bekerja. Hubungan kami awalnya terjalin melalui pertemuan-pertemuan rutin dengan para aktivis buruh. Suatu hari, setelah aksi bersama, aku iseng mengajaknya mampir ke Warung Koboi menikmati bakso dan teh dingin sambil mencibir kemelaratan. Dalam banyak hal aku tertarik dengan diri berikut gagasan-gagasannya, dan ketika rasa itu kunyatakan ternyata dia tidak menampiknya. Lalu, kami pun bercinta.

Semakin jelas bahwa aktivitas bersama para buruh dan mahasiswa itu menciduk tenaga, waktu, serta uangku yang memang tidak banyak. Untunglah Wati bukan Murni. Dia mencecap segala keterbatasan dan kekurangan, bagiku itu justru suatu kelebihan. Tetapi, tidak demikian halnya dengan pihak manajemen pabrik tekstil tempat aku bekerja. Mereka mulai mencurigai aktivitasku di luar jam kerja. Pengorganisasian buruh yang kami lakukan pun dinilai mengusik harmoni yang selama ini terbangun antara pemodal dan karyawan. Lalu, atas nama ketertiban dan kedisiplinan kerja, pihak manajemen melalui supervisor melayangkan surat peringatan kepadaku untuk fokus terhadap pekerjaan dan meningkatkan produktivitas.

2005

Kondisi ekonomi nasional semakin memprihatinkan. Nilai tukar mata uang nasional turun, keamanan dalam negeri mencemaskan, sementara jumlah pengangguran dan angka kemiskinan melonjak. Begitulah yang aku dengar dan lihat di teve serta aku baca di koran. Persentuhanku dengan berbagai sumber informasi semakin meningkat seiring pergumulanku yang semakin sering dan semakin dalam dengan aktivitas perjuangan hak-hak buruh. Beberapa perusahaan asing telah menutup perwakilan mereka di sini. Demikian pula sebagian pabrik yang ada di kompleks industri terpaksa memecat sebagian buruh demi mempertahankan kesehatan keuangan mereka. Aku sendiri termasuk di antara buruh pabrik tekstil yang dipecat dengan pesangon seadanya. Kami semua hampir tidak punya daya apalagi kuasa untuk menolak kenyataan ini.

Kondisi ekonomi dan politik yang terguncang membuat penguasa cemas. Tak pelak polisi dan tentara menjadi semakin tajam garang mengawasi aktivitas warga, termasuk organisasi buruh. Di antara tekanan ekonomi dan aksi intelijen negara, hubunganku dengan Wati pun ambruk. Dua minggu sebelumnya Wati telah menyatakan mengundurkan diri dari organisasi buruh setelah memperoleh ancaman dari atasannya di pabrik sepatu. Kini, tak mungkin lagi bagi dia untuk terus memberi subsidi kepadaku. Begitulah, setelah aku tidak lagi memiliki pekerjaan praktis aku lebih banyak bergantung pada kasih berlimpah milik Wati. Dalam kemiskinan kami dapat berbagi. Namun, ketika kemiskinan itu semakin mencekik, barangkali ego memang mesti lebih mengemuka ketimbang semangat komunalisme.

Lalu, aku ingat Yah. Dulu teman-teman buruh pabrik tekstil, termasuk aku, sering menggunjingkan bentuk tubuhnya yang tidak proporsional. Lekukan tubuhnya bukanlah gitar, biola, atau cello. Dia adalah gong atau bedug yang untuk menabuhnya perlu tenaga besar. Haaa... begitu kami menertawakannya hampir setiap hari. Di antara karyawan pabrik, laki-laki enggan mendekat, sementara perempuan menghindarinya demi menjaga gengsi di hadapan para laki-laki. Tetapi, di lain sisi hal itu memberi keuntungan bagi Yah. Dia tidak seperti buruh-buruh lain yang memperturutkan sahwat konsumsi demi mengimbangi mode dan kekinian. Maka, dari segi keuangan, Yah sangat sehat.

Tak mungkin bagiku untuk dapat bertahan hidup tanpa gaji saat ini. Dengan kajian yang cukup lengkap tadi, telah kuambil kesimpulan bahwa merangkul Yah demi sepiring nasi bukanlah sesuatu yang lebih kotor ketimbang perselingkuhan pemodal dan penguasa. Bagiku ini lebih mirip persekutuan kaum pinggiran. Tidakkah persatuan dan kebersamaan dapat menggugah kesadaran seklaigus menumbuhkan kekuatan?

Sementara kebutuhan perutku dapat terpenuhi, kutetapkan hati untuk terus berjuang membela hak-hak buruh. Organisasi kami termasuk yang berada di garis depan untuk membela hak buruh ketika terjadi pemecatan yang serampangan terhadap para buruh. Bersama para mahasiswa, kami pun mencoba menghubungi beberapa tokoh politik agar perjuangan kami mendapat dukungan yang lebih luas. Mereka berjanji untuk menyuarakan kepentingan kami lebih nyaring agar terdengar oleh semua pihak. Semudah itu janji kepada kami diudarkan. Aku tak tahu mesti memercayainya atau menganggapnya sebagai bualan.

Sore itu, usai suatu aksi yang melelahkan di depan kantor menteri, aku merebahkan diri di atas kasur tipis kamar kontrakanku. Pintu diketuk pelan. Aku malas untuk beranjak dan membiarkan penat membelai. Pintu kembali diketuk, kali ini agak keras. Aku belum juga terjaga dari kantuk yang begitu menguasai kesadaranku. Hingga kali ini pintu benar-benar didobrak dan tiga orang berbadan kekar menghambur ke dalam ruang. Mereka segera meringkusku. Membawa serta catatan-catatan hasil pertemuan kami tadi malam. Di antara tumpukan catatan-catatan itu hanya catatan tahunan inilah yang masih menemaniku meringkuk dalam dinginnya ruang berterali besi petang ini.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home